{"id":18217,"date":"2025-10-26T11:37:46","date_gmt":"2025-10-26T04:37:46","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jualanbarang.com\/blog\/kenali-kimono-dan-yukata-simbol-elegansi-dalam-budaya-jepang\/"},"modified":"2025-10-26T11:37:48","modified_gmt":"2025-10-26T04:37:48","slug":"kenali-kimono-dan-yukata-simbol-elegansi-dalam-budaya-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jualanbarang.com\/blog\/kenali-kimono-dan-yukata-simbol-elegansi-dalam-budaya-jepang\/","title":{"rendered":"Kenali Kimono dan Yukata: Simbol Elegansi dalam Budaya Jepang"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"1381\" data-end=\"1750\">Menurut <strong data-start=\"1389\" data-end=\"1407\">Japanese Taste<\/strong>, asal-usul kimono dapat ditelusuri hingga periode Heian (794\u20131185), ketika bangsawan Jepang mengenakan pakaian berlapis-lapis yang disebut <em data-start=\"1547\" data-end=\"1555\">kosode<\/em>. Seiring waktu, bentuk kosode berevolusi menjadi kimono modern yang dikenal saat ini. Kimono menjadi simbol status sosial, dengan warna, motif, dan bahan yang menunjukkan kedudukan pemakainya.<\/p>\n<p>Artikel berjudul <strong>Kenali Kimono dan Yukata: Simbol Elegansi dalam Budaya Jepang<\/strong> ini kami hadirkan kembali dalam versi ringkas agar Anda bisa langsung menangkap inti pembahasannya tanpa harus membaca keseluruhan berita di sumber utama. Isinya kami pilih dari topik yang sedang ramai dibicarakan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p data-start=\"1752\" data-end=\"2163\">Sementara itu, <strong data-start=\"1767\" data-end=\"1777\">yukata<\/strong> memiliki sejarah yang lebih sederhana. Berdasarkan penjelasan dari <strong data-start=\"1845\" data-end=\"1858\">Sakura.co<\/strong>, yukata pertama kali digunakan oleh para bangsawan setelah mandi uap di pemandian umum (<em data-start=\"1947\" data-end=\"1954\">onsen<\/em>). Istilah <em data-start=\"1965\" data-end=\"1973\">yukata<\/em> sendiri berarti \u201cpakaian mandi\u201d. Namun pada zaman Edo (1603\u20131868), masyarakat mulai mengenakan yukata di luar rumah, terutama saat festival musim panas, karena bahannya ringan dan nyaman.<\/p>\n<p data-start=\"2478\" data-end=\"2641\">Sedangkan yukata menggunakan bahan <strong data-start=\"2513\" data-end=\"2533\">katun atau linen<\/strong>, tanpa lapisan dalam. Hal ini membuatnya lebih ringan, sejuk, dan mudah dipakai, terutama di musim panas.<\/p>\n<hr style=\"margin:20px 0;border:0;border-top:1px solid #eee;\">\n<div style=\"font-size:14px;line-height:1.6em;color:#444;\">\n<p>    Kami menyajikan ringkasan dari artikel ini untuk memudahkan Anda memahami pokok pembahasannya. Anda bisa membaca berita selengkapnya melalui tautan di bawah ini:<\/p>\n<div style=\"margin-top:15px;display:flex;align-items:center;gap:12px;\">\n    <a href=\"https:\/\/www.trenmedia.co.id\/kenali-kimono-dan-yukata-simbol-elegansi-dalam-budaya-jepang\/\" target=\"_blank\" rel=\"dofollow noopener\" style=\"background:#83101c;color:#fff;border:none;padding:20px 14px;border-radius:6px;cursor:pointer;font-weight:600;line-height:0px;\"><br \/>\n      Baca Selengkapnya \u2192<br \/>\n    <\/a>\n  <\/div>\n<\/div>\n<p style=\"font-size:13px;color:#777;margin-top:10px;\">\n  Sumber: <a href=\"https:\/\/www.trenmedia.co.id\/kenali-kimono-dan-yukata-simbol-elegansi-dalam-budaya-jepang\/\" target=\"_blank\" rel=\"dofollow noopener\">TrenMedia.co.id<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menurut Japanese Taste, asal-usul kimono dapat ditelusuri hingga periode Heian (794\u20131185), ketika bangsawan Jepang mengenakan pakaian berlapis-lapis yang disebut kosode. Seiring waktu, bentuk kosode berevolusi menjadi kimono modern yang dikenal saat ini. Kimono menjadi simbol status sosial, dengan warna, motif, dan bahan yang menunjukkan kedudukan pemakainya. Artikel berjudul Kenali Kimono dan Yukata: Simbol Elegansi dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18218,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[45],"tags":[],"class_list":["post-18217","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tips"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.jualanbarang.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/1761453467_gabungan1-980x6871-1.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pb6KUu-4JP","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jualanbarang.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18217","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jualanbarang.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jualanbarang.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jualanbarang.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jualanbarang.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18217"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jualanbarang.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18217\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18219,"href":"https:\/\/www.jualanbarang.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18217\/revisions\/18219"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jualanbarang.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18218"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jualanbarang.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18217"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jualanbarang.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18217"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jualanbarang.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18217"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}